Riswan Indra, Photoprenuer Muda di Padang

Riswan Indra, Photoprenuer Muda di Padang

Terus Inovatif, Orderan selalu Ada

Meski masih menempuh studi di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang, Indra memiliki kompetensi fotografi mengagumkan.

Riswan Indra, seorang mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris FBS UNP, nama fotografer itu. Ia mengajak pasangan pengantin melakukan pemotretan di kamar pengantin. Pemotretan di kamar pengantin itu pun dengan berbagai sesi pun selesai dilakukan. Toh, hal tersebut tak menyurutkan keseriusan fotografer muda itu menyelesaikan proyek pemotretan itu.
”Ya, namanya kerja, harus mau capek. Saya harus memberikan yang terbaik kepada klien yang telah mengeluarkan uang untuk itu,” ujar Riswan Indra, fotografer muda ini, kemarin.
Meski memasang tarif relatif murah, tapi Indra—panggilan akrabnya—tetap berkomitmen memuaskan pelanggan dalam setiap momen terindah dalam hidup mereka.
Di tengah menjamurnya photopreneur (photography entrepreneur) di Padang, profesionalitas fotografer tentu menjadi pemenang. Tak mengherankan, banyak yang mematok tarif ratusan juta rupiah untuk sebuah proyek pemotretan.


Meski masih menempuh studi di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang, Indra memiliki kompetensi fotografi mengagumkan. Foto pernikahan menjadi pilihan jasa yang ditawarkannya.
”Awalnya, dari hobi saja. Kenapa pilih wedding, karena kebetulan ketika itu saya lihat peluangnya masih terbuka luas,” ujar pria kelahiran Telukkuantan, 23 tahun lalu itu. ”Selain itu, banyak teman yang memberi support. So, saya pikir kenapa tidak dicoba. Eh, ternyata oke juga,” ujarnya lagi sembari tersenyum.
Menurut Indra, ketertarikannya menekuni fotografi awalnya sekadar hobi sejak SMA. Rupanya, order kecil-kecilan yang datang dari teman dan saudaranya selama kuliah, makin memperkuat minatnya menekuni lebih serius. ”Ya, sudah dua tahun menekuni usaha fotografi ini,” katanya.
Indra hampir tidak pernah berpromosi atau beriklan tentang jasa kodak mengodak ini. Tapi, orderan pemotretan selalu lancar melalui mulut ke mulut. ”Hanya dari mulut ke mulut aja untuk hal promosi dalam jasa fotografi ini,” katanya.
Sekarang, jika sedang ramai, sebulan Indra bisa menggarap 2 proyek pemotretan. Tarifnya? ”Saya memasang tarif Rp600 ribu untuk 300 foto di luar cetak. Alhamdulillah, sudah dua tahun menekuni jasa ini, mampu menunjang biaya kuliah dan tak lagi bergantung pada orangtua,” ungkap Indra yang juga menerima jasa penterjemah.
Boleh jadi, jasa fotografi Indra diminati pelanggan karena kualitas jepretan dan kreativitasnya. Indra juga berkolaborasi dengan rekan-rekannya mengerjakan proyek pemotretan. Kendati persaingan semakin ketat dengan bermunculannya para fotografer, Indra tetap optimistis prospek bisnis ini menggiurkan.
”Selama kita bisa memberikan yang terbaik kepada pelanggan, dan terus inovatif, order selalu ada,” ujar Indra membuka resepnya. Indra pun berencana seusai tamat kuliah di UNP, akan terus mengembangkan hobinya di dunia fotografi dengan buka studio di kampungnya, Telukkuantan, Riau.
Usai tamat kuliah nanti, Indra ingin total berwirausaha. Alasannya, jadi PNS tak bisa kaya. Kemudian, jenjang karir lama dan kerja monoton serta tak ada perkembangan. ”Enak kita berwirausaha. Dengan hobi yang kita punyai, kita bebas berinovasi dan berkreasi. Apalagi, saya melihat jasa fotografi ini akan terus berkembang. Dan, saya pun bertekad bulat menekuni usaha jasa ini,” tukas Indra. (***)

Source: Padang Ekspres • Rabu, 16/03/2011 11:50 WIB • fajril mubarak •

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: