Karya Dosen

HIPOTESIS SAPIR-WHORF DAN STRUKTUR INFORMASI

KLAUSA PENTOPIKALAN BAHASA MINANGKABAU

 

Jufrizal

Zul Amri

Refnaldi

juf_ely@yahoo.com

 

Universitas Negeri Padang, Padang

 

Abstrak

 

Teori relativitas linguistik yang mendasari hipotesis Sapir-Whorf cukup menarik untuk ditelaah dan dibuktikan lebih jauh, meskipun sebagian ahli menolak teori dan hipotesis tersebut. Adanya keberhubungan antara bahasa, budaya, dan pikiran penuturnya adalah gagasan dasar teori dan hipotesis tersebut. Kesantunan berbahasa yang berakar dari percikan nilai budaya masyarakat penuturnya, di antaranya, dapat dilihat dari kemasan struktur informasi struktur klausa (kalimat) suatu bahasa. Konstruksi klausa yang berbeda secara gramaikal mengemas struktur informasi dan nilai kesantunan berbahasa yang berbeda pula. Artikel ini membahas sejauh mana hubungan hipotesis Sapir-Whorf dengan struktur informasi dan nilai kesantunan berbahasa dalam konstruksi pentopikalan bahasa Minangkabau. Penelaahan didasarkan pada teori tipologi linguistik dan linguistik kebudayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesis Sapir-Whorf dapat diterima dan berhuhungan erat dengan budaya berbahasa dengan bukti bahwa konstruksi pentopikalan mempunyai struktur informasi yang membawa nilai santun berbahasa yang lebih tinggi berdasarkan budaya berbahasa masyarakat Minangkabau bila dibandingkan dengan yang ada pada konstruksi klausa dasar (aktif) atau konstruksi pasif.

 

Kata/frasa kunci: hipotesis Sapir-Whorf, struktur informasi, pentopikalan, kesantunan berbahasa, tipologi linguistik, aktif, pasif

 

Abstract

 

Linguistic relativity theory as the basis of Sapir-Whorf hypothesis is interesting enough to be studied and to be proved although some linguists do not quiet agree with the theory and hypothesis. That there is interrelationship between language, culture, and thought becomes the basic idea of the theory and the hypothesis. Language politeness which comes up as the cultural representation, among the others, could be seen from information structure packaged in particular grammatical clause structures. Different clause constructions may bring different information structure and value of language politeness, as well. This article discusses to what extent the relationship between hypothesis Sapir-Whorf with information structure and the value of language politeness in topicalization construction of Minangkabaunese is. The study was done based on linguistic typology and anthropological linguistics theories. Research result shows that Sapir-Whorf hypothesis could be accepted and has close relationship with the culture of using language. It was proved by the fact that topicalization construction has an information structure which conveys higher value of language politeness based on Minangkabaunese culture than that brought by basic clause construction (active) or passive one.

 

Key words/phrases: hypothesis Sapir-Whorf, information structure, topicalization, language politeness, linguistic typology, active, passive

 

1. Artikel ini adalah telaah lanjut dari sebagian hasil Penelitian Dasar (Fundamental Research yang dibiayai oleh DP2M Ditjen Dikti Depdiknas Republik Indonesia, tahun 2006.

2. Dr. Jufrizal, M.Hum., Drs. Zul Amri, M.Ed., dan Refnaldi, S.Pd., M.Litt. adalah Staf Pengajar tetap Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, FBSS Universitas Negeri Padang, Padang.

 

Artikel ini telah dimuat pada Jurnal LINGUISTIKA Vol. 14, No. 26, Maret 2007

SK Akreditasi Nomor: 39/Dikti/Kep. 2004

 

Full article can be downloaded by clicking this link ejournal.jufrizal.pdf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: